Rupiah Melemah ke Rp16.782 per Dolar AS Hari Ini

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan Jumat (27/2/2026). Berdasarkan data pasar spot pagi ini, mata uang Garuda terkoreksi dan bertengger di level Rp16.782 per dolar AS. Penurunan ini mencerminkan tingginya tekanan eksternal yang membayangi pasar keuangan domestik, sekaligus menjadi alarm bagi para pelaku usaha yang bergantung pada impor bahan baku.

Dominasi Dolar AS dan Sentimen Global

Pelemahan rupiah ke level Rp16.782 dipicu oleh keperkasaan indeks dolar AS (DXY) yang terus merangkak naik di pasar global. Investor cenderung beralih ke aset safe haven menyusul rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja dan angka inflasi yang masih sulit dijinakkan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan semula (higher for longer).

Selain faktor kebijakan moneter AS, ketegangan geopolitik di beberapa kawasan juga turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar surat utang negara (SUN) menambah beban bagi nilai tukar rupiah. Para investor global saat ini lebih memilih untuk memarkir dana mereka di instrumen berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih pasti dan risiko yang lebih terukur di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Upaya Intervensi Bank Indonesia

Menanggapi pelemahan yang menembus angka Rp16.700-an ini, Bank Indonesia (BI) dipastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah-langkah intervensi dilakukan baik di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). BI berkomitmen untuk memastikan agar volatilitas rupiah tetap terjaga sehingga tidak mengganggu momentum pemulihan ekonomi nasional yang sedang berjalan.

Analis pasar uang memprediksi bahwa rupiah akan bergerak di rentang yang cukup lebar sepanjang hari ini, dengan potensi pelemahan lanjutan jika sentimen global tidak kunjung mereda. Namun, cadangan devisa Indonesia yang masih berada pada level yang kuat diharapkan mampu menjadi bantalan untuk meredam tekanan yang lebih dalam di masa mendatang.